Chapter One
FF pertama saya. Mohon responnya
kepada teman-teman yang membaca , bantu saya juga :) Dan dimohon komenannya....
LIKE DAN COMENT MEMPENGARUHI.
Jangan CoPas ne.....
Disclaimer :
Untuk cerita berasal dari pikiran saya sendiri.
Dan untuk member Super Junior
mereka milik Tuhan YME, orang tua mereka, diri mereka sendiri, SM Entertainment.
Dan khusus Donghae dia milik
saya -buagh- hehe
Cast :
Kyuhyun ( Super Junior member
)
Donghae ( Super Junior member
)
Henry ( Super Junior member )
Shinbi (OOC)
Hyura (OOC)
Ryewook ( Super Junior member
)
Jiwon (OOC)
Yeorim (OOC)
Sungmin ( Super Junior member
)
Lee Joon ( Aktor )
Akan bertambah seiring cerita
berlangsung (!!!)
Genre :
Romance(?), sadness, school
Summary :
Baca sendiri !!!
Warning :
Typo
Out Of Character
Aneh (?)
Alur maksa
Pendek
Pengubahan karakter terjadi
karena disengaja, jadi untuk para fansnya saya mohon minta maaf... *bungkuk 90o*
~Super Junior Fanfiction~
By : Silvi280199
Don’t
Like? Don’t Read!
Happy Reading!!!!
.
.
One
08:55
"Sial kenapa harus
terlambat! Dokter Kim pasti akan marah besar padaku." Gerutu Shin-Bi
sambil berlari menuju halte bus.
Rambut yang diikat ekor kuda
itu bergerak pelan tertiup angin musim dingin. Matanya tak lelah bergerak
kekanan-kiri jalanan, mencari sesuatu yang ditunggunya yang tak kunjung datang.
"Ayolah... Sudah
terlambat, tak ada bus lagi. Lengkaplah penderitaanku ini." Gerutunya
terus.
Setelah beberapa menit
menunggu, terlihatlah sebuah bus muncul tak jauh dari tempatnya. Dengan
semangat ia berlari kearah bus itu. Hal yang bodoh bukan? Bukankah seharusnya
ia menunggu sampai bus itu berhenti didepan halte. Tapi mungkin karena terlalu
semangat atau perasan entah apa, Shin-Bi malah berlari kearah bus itu. Supir
bus yang melihat tingkah aneh yeoja itu hanya menggelengkan kepala, ia segera
menghentikan bus didepan Shin-Bi.
"Selamat pagi Shin-Bi,
terlambat eoh?" Goda supir bus itu yang tak lain adalah Lee Donghae, sahabat
Shin-Bi. Meski baru sekedar dua bulan ia bertemu Shin-Bi. Tapi mereka sudah
seperti sahabat yang bertahun-tahun bersama.
"Aish... Jangan
menggodaku. Cepat jalankan busnya." Balas Shin-Bi ketus. Mendengar jawaban
ketus sahabatnya, Donghae hanya tertawa kecil.
"Bagaimana harimu oppa?
Apa tidak bosan terus-terusan menjadi supir bus seperti ini?" Tanya
Shin-Bi.
"Lebih baik daripada
harus pergi ke Paris dan berkutat pada document-document yang membosankan itu. Aishh...
aku tak akan pernah mau melanjutkan perusuhaan Appa. Toh... Aku masih bisa
membiayai kuliah Dan kehidupanku bukan." jawab Donghae dengan
menyunggingkan senyumnya.
"Ne... Ne... Kau memang
Seorang Lee Donghae yang ku kenal." ucap Shin-Bi. Donghae hanya terkekeh
mendengar ucapan sahabatnya.
***
"Hyung aku tidak
apa-apa." ucap Kyuhyun kepada managernya, Lee Sungmin.
"Ayolah... Tuan muda Cho
Kyuhyun, aku ini bukan orang bodoh. Semua orang tahu, terlihat jelas diwajahmu
yang semakin pucat itu. Sudahlah... Aku akan mengantarmu ke Dokter." tegas
Sungmin, Sungmin sangat mengerti sikap keras kepala bos sekaligus sahabatnya
itu. Sebenarnya Sungmin merasa sangat kasihan kepada Kyuhyun, di usianya yang
masih terbilang muda itu seharusnya tidak hanya Ia gunakan dikantor. Tapi
Sungmin sangat mengerti dengan keadaan Kyuhyun. Karena appa Kyuhyun sakit
dengan terpaksa Kyuhyun menerima permintaan appanya, menjadi penerus perusahaan
kelurga Cho.
"Maaf hyung." hanya
itu yang terlontar dari mulut Kyuhyun. Kyuhyun pun dengan santainya berjalan
melewati Sungmin.
"Ck... Dasar keras
kepala." gumam Sungmin, ia terlalu lelah berdebat dengan Kyuhyun. Jadi ia biarkan
saja Kyuhyun keluar dari ruangannya. 'Mungkin ia butuh waktu untuk sendiri'
batinnya.
Perasaan pusing masih ia
rasakan, tapi Kyuhyun mencoba menghilangkannya dengan sedikit memijit
pelipisnya. Bukannya ia tak menghormati saran sahabatnya itu. Tetapi jika ia
pergi ke dokter, pasti Jung Hyu-Ra, yeojachingunya akan pergi menemuinya.
Kyuhyun tidak ingin bertemu dengannya untuk beberapa hari ini. Kyuhyun merasa
kesal pada Hyura, sebagai seorang kekasih ia tak suka Hyura berpose manas
disebuah cover majalah dewasa. Menurutnya itu hal yang sangat memalukan.
***
Dengan muka kusutnya ShinBi
berjalan gontai menelusuri koridor. Ia remas-remas ujung jas putihnya. Mencoba
menghilangkan kekesalannya.
Shinbi benar-benar kesal,
setelah ia berusaha berlari secepat mungkin dari halte bus menuju sekolah, ia
harus dikagetkan dengan muka menyeramkan dokter Kim. Ia benar-benar kehabisan
kata-kata jika berhadapan dengan dokter Kim. Setelah hampir satu jam dokter Kim
memarahinya, akhirnya ada sebuah panggilan masuk yang menyebabkan dokter Kim
pergi dan berhenti memarahi Shinbi. Sekarang Shinbi, seorang asisten dokter di
sekolah elit di Seoul ini bisa bernapas lega.
"Shinbi, mulai hari ini
sampai seminggu kedepan aku serahkan semuanya kepadamu. Ada hal penting yang
harus aku urus." itu kata-kata terakhir dokter Kim sebelum pergi.
"Noona Shinbi, ada yang
berkelahi di kelas XII B! Kami mohon noona pisahkan mereka!" Teriak
seorang siswa perempuan sambil menyeret Shinbi menuju kelas XII B, kelas itu
benar-benar ramai sekali. Shinbi benar-benar kaget melihat keadaan kelas yang
kacau.
"Ke... Kenapa tak
memanggil guru lain." Ucap Shinbi, ia benar-benar kewalahan dengan dua
orang siswa yang tengah berkelahi ini.
"Guru lain tengah rapat,
hanya noona yang dapat membantu kami." Jawab seorang siswa yang tengah
membantu Shinbi memisahkan dua siswa yang berkelahi. Shinbi benar-benar panik,
saat dirasa ada kesempatan tanpa pikir panjang ia berdiri diantara dua siswa
yang berkelahi tadi. Dengan nyaring ia pun berteriak. "BERHENTI."
Semua siswa termasuk dua orang yang tengah berkelahi diam dan terlihat menutup
kedua telinga mereka yang diyakini sakit itu. Shinbi menyeringai kecil, lalu
menyeret dua siswa yang berkelahi menuju UKS.
Melerai sebuah perkelahian
ataupun mengurusi siswa-siswa bermasalah memang bukan tugasnya. Tugas Shinbi
hanya menangani siswa atau para staf sekolah yang sakit, itupun jika tidak
parah. Tetapi, apa boleh buat? Tak ada guru yang dapat dimintai bantuan selain
dirinya.
"Apa yang kalian
lakukan?" Tanya Shinbi dengan nada menyelidik. Setelah mereka masuk ke
UKS. "Bukankah itu hal yang bodoh! Siapa nama kalian? Aku akan
mencatatnya!" Lanjutnya tegas. Ia berjalan kearah meja kerjanya di sudut
ruangan kesehatan itu, lalu mengambil note kecil dan ballpoint. Kemudian Shinbi
melirik kearah siswa yang memiliki muka imut.
"Ryewook, namaku Ryewook."
Ujarnya dengan nada malas. Shinbi lalu melirik kearah siswa disamping Ryewook.
"Henry Lau Imnida,
bangapsamnida." Ujarnya dengan senyuman manis yang membuat matanya
menyipit. 'Wajah Chinesse' batin Shinbi. Shinbi merasa heran kepada dua anak
yang berdiri didepannya ini. Mereka padahal terlihat sangat polos nan lugu.
Tetapi mereka tak sepolos apa yang terlihat.
"Apa yang menjadi
masalah kalian?" Shinbi mencoba bersikap lembut.
"Tidak ada. Kami hanya
melakukan sesuatu yang menyenangkan." Jawab Henry sambil merangkul Ryewook
dengan paksa. Terlihat jelas Ryewook agak risih dengan perilaku tiba-tiba
Henry.
"Ouh, kalau begitu aku
akan mengobati luka kalian sebelum kalian kembali ke kelas!" Tawar Shinbi.
"Andwe, aku tidak
mau." Ryewook melepaskan rangkulan Henry dengan kasar dan pergi begitu
saja. Shinbi menghela nafas berat.
"Tak apa noona. Lukanya
tak parah, tadi aku tak memukulnya dengan keras." Jelas Henry. "Hmm,
sekarang bagaimana kalau noona mengobatiku?" Ucapan Henry membuat Shinbi
tersadar, lalu ia tersenyum dengan lembut. Henry menggapai kedua tangan Shinbi
lalu menangkupkannya dikedua pipinya yang lebam. Hal itu sontak membuat Shinbi
kaget dan segera melepaskan tangannya dari pipi namja itu. Rona merah terlihat
menjalari pipi chubby Shinbi.
"Ak-aku akan mengambil
obat dulu." Ucapnya gugup. Ia berbalik dan memandang kebawah. Ia merasa
malu sekarang.
***
"Apa yang kalian lakukan
disini Oppa?" Tanya seorang yeoja berumur 18 tahunan kepada namja tampan
yang lebih tua enam tahun darinya.
"Bukankah aku sudah
biasa menjemputmu jam segini, Yeorim-ah?" Ucap namja itu.
"Tapi Donghae oppa kau
tak bisa lihat aku sedang bersama teman-temanku." Ucap Yeorim ketus. Ia
benar-benar malu saat teman-temannya tengah mentertawakannya, karena ia
berpacaran dengan seorang supir bus. "Sekarang aku ingin oppa pergi dari
sini. Jika oppa tidak mau, aku ingin kita pu-" belum selesai Yeorim
bicara, Donghae menyelanya dengan sebuah kecupan dikening Yeorim. Setelah itu
ia pergi sambil tersenyum lembut.
"Tampan sih, tapi
pekerjaannya itu loh." Kekeh salah seorang teman Yeorim. Mendengar
lontaran dan gelak tawa teman-temannya, Yeorim sangat kesal.
"Jika aku tidak
berpacaran dengan Donghae oppa, aku tidak akan bisa mentraktir kalian."
Sinis Yeorim. Semua teman-temannya segera menghentikan tawa mereka.
"Kau benar, tetapi jangan
keterlaluan. Donghae oppa orang yang baik juga tulus. Dia sangat tak pantas
untuk disakiti. Lagi pula, menyakiti hati manusia bukan hal yang pantas
dibanggakan. Kau harus ingat batasan manusia Yeorim." Nasihat salah satu
teman Yeorim, Choi Jiwon. Mendengar nasehat sahabatnya Yeorim hanya tersenyum
meremehkan.
***
"Selamat sore noona. Kau
belum pulang?" Sapa Henry.
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya
siswa telah pulang satu jam yang lalu bukan?" Heran Shinbi.
"Aku ingin pulang
bersama noona." Jawab Henry. Mendengar itu Shinbi memutar bola matanya
jengah. 'Dia mempermainkanku' batin Shinbi kesal.
"Ouh" respon
singkat Shinbi mendapatkan balasan senyum tulus Henry. Entah kenapa Henry
merasa tertarik dengan yeoja berumur 21 tahun ini. Yeoja yang memiliki darah
melayu-korea ini terlihat sangat manis. Seorang perawat yang baru magang dua
bulan di sekolahnya ini, mampu membuat ia bertekuk lutut. Henry bertekad untuk
mendapatkan perhatian dari Shinbi.
"Aku akan mengantar
noona dengan motorku!" Tawar Henry.
"Mian Henry, aku akan
lembur. Jadi kumohon kau cepat pulang jangan buat orangtuamu khawatir!"
Mendengar itu Henry menghela nafasnya berat, ia tahu mendekati yeoja yang lebih
tua tiga tahun darinya ini memang tak mudah. Ia tahu Shinbi hanya menganggapnya
remaja labil. Tapi toh itu tak akan mengurangi rasa ketertarikannya pada Shinbi.
"Hmm, kalau begitu aku
akan menunggumu." Keukeuh(?) Henry. Shinbi menghela nafas berat
mendengarnya. Henry mengambil langkah menuju sebuah kursi didekat jendela.
Posisi yang bagus menurutnya, dengan posisi ini Henry dapat memandangi Shinbi
sepuasnya 'sangat menyenangkan' pikir Henry. Shinbi terlihat kesal, tetapi ia
terlalu malas meladeninya. Ia lebih memilih mengerjakan pekerjaannya yang
sempat ia tunda tadi. Asal Henry tak mengganggu itu tak masalah-pikirnya!
***
22:55
Donghae benar-benar merasa
cemas dan khawatir pada Yeorim. Setelah ia mendapat panggilan dari eomma
Yeorim, bahwa Yeorim belum pulang hingga sekarang. Donghae segera pergi mencari
Yeorim, tak mempedulikan rasa lapar juga lelah yang menerpanya. Dengan langkah
yang agak tertatih ia menulusuri berbagai tempat di jantung kota Seoul ini.
Rasa lelah yang kian menjadi membuatnya benar-benar tak sanggup berjalan lagi.
Ia menghentikan langkahnya sebentar, lalu setelah tenaganya mulai muncul, ia
segera berlari dengan sekuat tenaga. Rasa lelah ini benar-benar tak sebanding
dengan rasa khawatirnya kepada Yeorim. Yang ada dipikirannya sekarang hanya
Yeorim dan Yeorim. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Yeorim, tapi ponsel
Yeorim tidak dapat dihubungi. Donghae semakin gelisah.
Drrttt
Suara ponsel yang bergetar
membuat Donghae tersentak kaget. Dengan gerakan super cepat, ia mengambil
handphone dari saku celananya. Setelah membaca pesan singkat yang masuk ke
handphonenya, Donghae segera berlari menuju suatu tempat. Alamat yang tadi ia
dapat melalui pesan singkat itu.
"Chagi-ya,
chankanman!" Sahutnya kemudian.
***
"Kau cukup antarkan aku
sampai disini." Tegas Shinbi.
"Ayolah, noona. Aku
ingin mengantarmu sampai rumah." Rengek Henry.
Shinbi memutar bola matanya
jengah. Ia tak memperdulikan Henry. Shinbi segera berbalik dan berjalan dengan
langkah yang dibuat besar-besar meninggalkan Henry yang hanya diam terpaku
disamping motornya. Henry mendenguskan nafasnya kesal. Ia melihat Shinbi yang
mulai menghilang di persimpangan jalan. Tiba-tiba, Henry menyunggingkan
bibirnya. Sebuah senyuman atau seringaian muncul diwajah manisnya. Yap...
Sepertinya si tampan kita telah menemukan sebuah ide cemerlang.
Setelah merasa yakin ia
berjalan cukup jauh. Shinbi memperlambat langkahnya. Sebenarnya ia tadi
berbohong kepada Henry, rumahnya masih jauh dari sini mungkin sekitar 500 meter
lagi. Perasaan bersalah coba ia hilangkan, sebenarnya ia tak enak hati
menyakiti perasaan seseorang. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa dan tak boleh
memberikan harapan kepada muridnya. Harapan? Yap... Shinbi berpikir bahwa Henry
menyukainya. Meski ia tak mendengar perkataan itu secara resmi. Tetapi, sikap
dan perilaku Henry mencerminkan bahwa Henry menyukainya. Shinbi tak dapat
membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sampai ia merespon. Pasti akan
terjadi masalah yang besar. Shinbi menggelengkan kepalanya beberapa kali,
berniat menghapus pikiran rumitnya. Ia mencoba menikmati pemandangan malam di
sekelilingnya. Pemandangan malam di jantung kota Seoul ini sangat indah,
berbagai lampu yang bersinar terpasang manis di beberapa kios-kios yang masih
buka. 'Selalu ramai' pikirnya. Berulangkali Shinbi menggosok-gosokan kedua
telapak tangannya, mencoba sedikit menghangatkan tubuhnya. "Pabo, hanya
orang bodoh yang tak membawa jaket saat musim dingin." Gerutunya pada diri
sendiri.
Sebenarnya Henry diam-diam
mengikuti Shinbi, berjalan sambil memapah motor besarnya itu. Henry mengambil
beberapa meter dari belakang Shinbi agar tak ketahuan. Terbesit dalam
pikirannya untuk memberikan jaket hangat yang ia kenakan pada Shinbi. Tetapi
jika itu terjadi, ia akan ketahuan mengikuti Shinbi. Henry hanya dapat berharap
jas putih yang berbahan tipis itu dapat menghangatkan yeoja yang amat
disayanginya itu. Henry tersentak kaget saat tiba-tiba ia melihat Shinbi
berlari kearah sebuah 'night club' di persimpangan jalan. Dengan tergesa Henry
menaiki motornya lalu menyalakannya dengan cepat. Ia mengendarai motornya
hendak menyusul Shinbi.
Saat sedang asyik-asyiknya
memandangi beberapa kios yang menawarkan aksesoris lucu. Penglihatan Shinbi
dikagetkan oleh sosok yang amat familiar baginya. Itu Donghae, dia masuk ke sebuah 'night club'
dengan langkah tertatih. Tanpa pikir panjang Shinbi berlari mencoba mengejar
Donghae. Ia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
***
Hingar bingar musik mulai
mengusik gendang pendengaran pemuda tampan yang baru saja memasuki 'night
club'. Nafasnya tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Ia berlari tanpa berhenti
sekitar 700 meter. Donghae -nama namja itu- mulai mengatur nafasnya. Ia
langkahkan kakinya perlahan. Matanya menelusuri sekeliling ruangan yang
kelihatan remang. Sesekali ia mendapati pandangan aneh dari para pengunjung
yang rata-rata berpakaian elegan itu. Donghae tak mengindahkan pandangan aneh
dari orang-orang itu. Ia terpaku saat melihat sosok yang dikenalinya sedang
mondar-mandir disudut ruangan.
"Jiwon-ah, dimana
Yeorim?" Tanyanya segera ketika ia berada di hadapan Jiwon. Dilihatnya
Jiwon yang terlihat gelisah. "Jiwon. Jawab aku!" Bentaknya keras.
Jiwon meneteskan air matanya. Jiwon benar-benar bingung harus mengatakan apa.
"Jiwon. Jebal, beritahu
aku!" Mohin Donghae dengan putus asa. Ia tahu Jiwon ketakutan dengan
bentakannya tadi.
Jiwon merasa tak enak hati,
ia menggerakan jari telunjuknya kearah sebuah pintu disampingnya. "Mianhae
oppa. Aku sudah melarangnya." Ucapnya dengan nada serak dan berat. Ia
menundukan kepalanya, tak kuasa memandang Donghae. Donghae segera berlari kearah
pintu itu. Perasaan buruk mulai mendatanginya. Dengan sekuat tenaga ia
memberanikan dirinya mendobrak pintu yang ditunjuk Jiwon.
BRAKK
Entah karena apa? Pintu itu
dengan mudahnya terbuka. Dengan segera ia masuk kedalam ruangan. Donghae merasa
seperti disambar petir(?). Hatinya teriris-iris. Ia benar-benar tak percaya,
ini bisa terjadi dalam kehidupannya. Ia melihat Yeorim dan seorang pemuda
sedang bermesraan di sebuah ranjang king size.
????????????????????
Apa yang akan terjadi pada
Donghae, setelah ia melihat kekasihnya bermesraan dengan orang lain didepannya?
Dan apakah Shinbi akan merespon perasaan Henry?
Jangan kemana-mana! Nantikan
kelanjutannya! ( Huahaha, emang sinetron? )
Terima Kasih ^^
