Sabtu, 31 Januari 2015

~~~POCKET LOVE~~~

Chapter One
FF pertama saya. Mohon responnya kepada teman-teman yang membaca , bantu saya juga :) Dan dimohon komenannya....
LIKE DAN COMENT MEMPENGARUHI.
Jangan CoPas ne.....
Disclaimer :
Untuk cerita berasal  dari pikiran saya sendiri.
Dan untuk member Super Junior mereka milik Tuhan YME, orang tua mereka, diri mereka sendiri, SM Entertainment.
Dan khusus Donghae dia milik saya -buagh- hehe
Cast :
Kyuhyun ( Super Junior member )
Donghae ( Super Junior member )
Henry  ( Super Junior member )
Shinbi (OOC)
Hyura (OOC)
Ryewook ( Super Junior member )
Jiwon (OOC)
Yeorim (OOC)
Sungmin ( Super Junior member )
Lee Joon ( Aktor )
Akan bertambah seiring cerita berlangsung (!!!)
Genre :
Romance(?), sadness, school
Summary :
Baca sendiri !!!
Warning :
Typo
Out Of Character
Aneh (?)
Alur maksa
Pendek
Pengubahan karakter terjadi karena disengaja, jadi untuk para fansnya saya mohon minta maaf... *bungkuk 90o*
~Super Junior Fanfiction~
By : Silvi280199
Dont Like? Dont Read!
Happy Reading!!!!
.
.
One
08:55
"Sial kenapa harus terlambat! Dokter Kim pasti akan marah besar padaku." Gerutu Shin-Bi sambil berlari menuju halte bus.
Rambut yang diikat ekor kuda itu bergerak pelan tertiup angin musim dingin. Matanya tak lelah bergerak kekanan-kiri jalanan, mencari sesuatu yang ditunggunya yang tak kunjung datang.
"Ayolah... Sudah terlambat, tak ada bus lagi. Lengkaplah penderitaanku ini." Gerutunya terus.
Setelah beberapa menit menunggu, terlihatlah sebuah bus muncul tak jauh dari tempatnya. Dengan semangat ia berlari kearah bus itu. Hal yang bodoh bukan? Bukankah seharusnya ia menunggu sampai bus itu berhenti didepan halte. Tapi mungkin karena terlalu semangat atau perasan entah apa, Shin-Bi malah berlari kearah bus itu. Supir bus yang melihat tingkah aneh yeoja itu hanya menggelengkan kepala, ia segera menghentikan bus didepan Shin-Bi.
"Selamat pagi Shin-Bi, terlambat eoh?" Goda supir bus itu yang tak lain adalah Lee Donghae, sahabat Shin-Bi. Meski baru sekedar dua bulan ia bertemu Shin-Bi. Tapi mereka sudah seperti sahabat yang bertahun-tahun bersama.
"Aish... Jangan menggodaku. Cepat jalankan busnya." Balas Shin-Bi ketus. Mendengar jawaban ketus sahabatnya, Donghae hanya tertawa kecil.
"Bagaimana harimu oppa? Apa tidak bosan terus-terusan menjadi supir bus seperti ini?" Tanya Shin-Bi.
"Lebih baik daripada harus pergi ke Paris dan berkutat pada document-document yang membosankan itu. Aishh... aku tak akan pernah mau melanjutkan perusuhaan Appa. Toh... Aku masih bisa membiayai kuliah Dan kehidupanku bukan." jawab Donghae dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ne... Ne... Kau memang Seorang Lee Donghae yang ku kenal." ucap Shin-Bi. Donghae hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya.
              ***
"Hyung aku tidak apa-apa." ucap Kyuhyun kepada managernya, Lee Sungmin.
"Ayolah... Tuan muda Cho Kyuhyun, aku ini bukan orang bodoh. Semua orang tahu, terlihat jelas diwajahmu yang semakin pucat itu. Sudahlah... Aku akan mengantarmu ke Dokter." tegas Sungmin, Sungmin sangat mengerti sikap keras kepala bos sekaligus sahabatnya itu. Sebenarnya Sungmin merasa sangat kasihan kepada Kyuhyun, di usianya yang masih terbilang muda itu seharusnya tidak hanya Ia gunakan dikantor. Tapi Sungmin sangat mengerti dengan keadaan Kyuhyun. Karena appa Kyuhyun sakit dengan terpaksa Kyuhyun menerima permintaan appanya, menjadi penerus perusahaan kelurga Cho.
"Maaf hyung." hanya itu yang terlontar dari mulut Kyuhyun. Kyuhyun pun dengan santainya berjalan melewati Sungmin.
"Ck... Dasar keras kepala." gumam Sungmin, ia terlalu lelah berdebat dengan Kyuhyun. Jadi ia biarkan saja Kyuhyun keluar dari ruangannya. 'Mungkin ia butuh waktu untuk sendiri' batinnya.
Perasaan pusing masih ia rasakan, tapi Kyuhyun mencoba menghilangkannya dengan sedikit memijit pelipisnya. Bukannya ia tak menghormati saran sahabatnya itu. Tetapi jika ia pergi ke dokter, pasti Jung Hyu-Ra, yeojachingunya akan pergi menemuinya. Kyuhyun tidak ingin bertemu dengannya untuk beberapa hari ini. Kyuhyun merasa kesal pada Hyura, sebagai seorang kekasih ia tak suka Hyura berpose manas disebuah cover majalah dewasa. Menurutnya itu hal yang sangat memalukan.
           ***
Dengan muka kusutnya ShinBi berjalan gontai menelusuri koridor. Ia remas-remas ujung jas putihnya. Mencoba menghilangkan kekesalannya.
Shinbi benar-benar kesal, setelah ia berusaha berlari secepat mungkin dari halte bus menuju sekolah, ia harus dikagetkan dengan muka menyeramkan dokter Kim. Ia benar-benar kehabisan kata-kata jika berhadapan dengan dokter Kim. Setelah hampir satu jam dokter Kim memarahinya, akhirnya ada sebuah panggilan masuk yang menyebabkan dokter Kim pergi dan berhenti memarahi Shinbi. Sekarang Shinbi, seorang asisten dokter di sekolah elit di Seoul ini bisa bernapas lega.
"Shinbi, mulai hari ini sampai seminggu kedepan aku serahkan semuanya kepadamu. Ada hal penting yang harus aku urus." itu kata-kata terakhir dokter Kim sebelum pergi.
"Noona Shinbi, ada yang berkelahi di kelas XII B! Kami mohon noona pisahkan mereka!" Teriak seorang siswa perempuan sambil menyeret Shinbi menuju kelas XII B, kelas itu benar-benar ramai sekali. Shinbi benar-benar kaget melihat keadaan kelas yang kacau.
"Ke... Kenapa tak memanggil guru lain." Ucap Shinbi, ia benar-benar kewalahan dengan dua orang siswa yang tengah berkelahi ini.
"Guru lain tengah rapat, hanya noona yang dapat membantu kami." Jawab seorang siswa yang tengah membantu Shinbi memisahkan dua siswa yang berkelahi. Shinbi benar-benar panik, saat dirasa ada kesempatan tanpa pikir panjang ia berdiri diantara dua siswa yang berkelahi tadi. Dengan nyaring ia pun berteriak. "BERHENTI." Semua siswa termasuk dua orang yang tengah berkelahi diam dan terlihat menutup kedua telinga mereka yang diyakini sakit itu. Shinbi menyeringai kecil, lalu menyeret dua siswa yang berkelahi menuju UKS.
Melerai sebuah perkelahian ataupun mengurusi siswa-siswa bermasalah memang bukan tugasnya. Tugas Shinbi hanya menangani siswa atau para staf sekolah yang sakit, itupun jika tidak parah. Tetapi, apa boleh buat? Tak ada guru yang dapat dimintai bantuan selain dirinya.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Shinbi dengan nada menyelidik. Setelah mereka masuk ke UKS. "Bukankah itu hal yang bodoh! Siapa nama kalian? Aku akan mencatatnya!" Lanjutnya tegas. Ia berjalan kearah meja kerjanya di sudut ruangan kesehatan itu, lalu mengambil note kecil dan ballpoint. Kemudian Shinbi melirik kearah siswa yang memiliki muka imut.
"Ryewook, namaku Ryewook." Ujarnya dengan nada malas. Shinbi lalu melirik kearah siswa disamping Ryewook.
"Henry Lau Imnida, bangapsamnida." Ujarnya dengan senyuman manis yang membuat matanya menyipit. 'Wajah Chinesse' batin Shinbi. Shinbi merasa heran kepada dua anak yang berdiri didepannya ini. Mereka padahal terlihat sangat polos nan lugu. Tetapi mereka tak sepolos apa yang terlihat.
"Apa yang menjadi masalah kalian?" Shinbi mencoba bersikap lembut.
"Tidak ada. Kami hanya melakukan sesuatu yang menyenangkan." Jawab Henry sambil merangkul Ryewook dengan paksa. Terlihat jelas Ryewook agak risih dengan perilaku tiba-tiba Henry.
"Ouh, kalau begitu aku akan mengobati luka kalian sebelum kalian kembali ke kelas!" Tawar Shinbi.
"Andwe, aku tidak mau." Ryewook melepaskan rangkulan Henry dengan kasar dan pergi begitu saja. Shinbi menghela nafas berat.
"Tak apa noona. Lukanya tak parah, tadi aku tak memukulnya dengan keras." Jelas Henry. "Hmm, sekarang bagaimana kalau noona mengobatiku?" Ucapan Henry membuat Shinbi tersadar, lalu ia tersenyum dengan lembut. Henry menggapai kedua tangan Shinbi lalu menangkupkannya dikedua pipinya yang lebam. Hal itu sontak membuat Shinbi kaget dan segera melepaskan tangannya dari pipi namja itu. Rona merah terlihat menjalari pipi chubby Shinbi.
"Ak-aku akan mengambil obat dulu." Ucapnya gugup. Ia berbalik dan memandang kebawah. Ia merasa malu sekarang.
    ***
"Apa yang kalian lakukan disini Oppa?" Tanya seorang yeoja berumur 18 tahunan kepada namja tampan yang lebih tua enam tahun darinya.
"Bukankah aku sudah biasa menjemputmu jam segini, Yeorim-ah?" Ucap namja itu.
"Tapi Donghae oppa kau tak bisa lihat aku sedang bersama teman-temanku." Ucap Yeorim ketus. Ia benar-benar malu saat teman-temannya tengah mentertawakannya, karena ia berpacaran dengan seorang supir bus. "Sekarang aku ingin oppa pergi dari sini. Jika oppa tidak mau, aku ingin kita pu-" belum selesai Yeorim bicara, Donghae menyelanya dengan sebuah kecupan dikening Yeorim. Setelah itu ia pergi sambil tersenyum lembut.
"Tampan sih, tapi pekerjaannya itu loh." Kekeh salah seorang teman Yeorim. Mendengar lontaran dan gelak tawa teman-temannya, Yeorim sangat kesal.
"Jika aku tidak berpacaran dengan Donghae oppa, aku tidak akan bisa mentraktir kalian." Sinis Yeorim. Semua teman-temannya segera menghentikan tawa mereka.
"Kau benar, tetapi jangan keterlaluan. Donghae oppa orang yang baik juga tulus. Dia sangat tak pantas untuk disakiti. Lagi pula, menyakiti hati manusia bukan hal yang pantas dibanggakan. Kau harus ingat batasan manusia Yeorim." Nasihat salah satu teman Yeorim, Choi Jiwon. Mendengar nasehat sahabatnya Yeorim hanya tersenyum meremehkan.
   ***
"Selamat sore noona. Kau belum pulang?" Sapa Henry.
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya siswa telah pulang satu jam yang lalu bukan?" Heran Shinbi.
"Aku ingin pulang bersama noona." Jawab Henry. Mendengar itu Shinbi memutar bola matanya jengah. 'Dia mempermainkanku' batin Shinbi kesal.
"Ouh" respon singkat Shinbi mendapatkan balasan senyum tulus Henry. Entah kenapa Henry merasa tertarik dengan yeoja berumur 21 tahun ini. Yeoja yang memiliki darah melayu-korea ini terlihat sangat manis. Seorang perawat yang baru magang dua bulan di sekolahnya ini, mampu membuat ia bertekuk lutut. Henry bertekad untuk mendapatkan perhatian dari Shinbi.
"Aku akan mengantar noona dengan motorku!" Tawar Henry.
"Mian Henry, aku akan lembur. Jadi kumohon kau cepat pulang jangan buat orangtuamu khawatir!" Mendengar itu Henry menghela nafasnya berat, ia tahu mendekati yeoja yang lebih tua tiga tahun darinya ini memang tak mudah. Ia tahu Shinbi hanya menganggapnya remaja labil. Tapi toh itu tak akan mengurangi rasa ketertarikannya pada Shinbi.
"Hmm, kalau begitu aku akan menunggumu." Keukeuh(?) Henry. Shinbi menghela nafas berat mendengarnya. Henry mengambil langkah menuju sebuah kursi didekat jendela. Posisi yang bagus menurutnya, dengan posisi ini Henry dapat memandangi Shinbi sepuasnya 'sangat menyenangkan' pikir Henry. Shinbi terlihat kesal, tetapi ia terlalu malas meladeninya. Ia lebih memilih mengerjakan pekerjaannya yang sempat ia tunda tadi. Asal Henry tak mengganggu itu tak masalah-pikirnya!
   ***
22:55
Donghae benar-benar merasa cemas dan khawatir pada Yeorim. Setelah ia mendapat panggilan dari eomma Yeorim, bahwa Yeorim belum pulang hingga sekarang. Donghae segera pergi mencari Yeorim, tak mempedulikan rasa lapar juga lelah yang menerpanya. Dengan langkah yang agak tertatih ia menulusuri berbagai tempat di jantung kota Seoul ini. Rasa lelah yang kian menjadi membuatnya benar-benar tak sanggup berjalan lagi. Ia menghentikan langkahnya sebentar, lalu setelah tenaganya mulai muncul, ia segera berlari dengan sekuat tenaga. Rasa lelah ini benar-benar tak sebanding dengan rasa khawatirnya kepada Yeorim. Yang ada dipikirannya sekarang hanya Yeorim dan Yeorim. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Yeorim, tapi ponsel Yeorim tidak dapat dihubungi. Donghae semakin gelisah.
Drrttt
Suara ponsel yang bergetar membuat Donghae tersentak kaget. Dengan gerakan super cepat, ia mengambil handphone dari saku celananya. Setelah membaca pesan singkat yang masuk ke handphonenya, Donghae segera berlari menuju suatu tempat. Alamat yang tadi ia dapat melalui pesan singkat itu.
"Chagi-ya, chankanman!" Sahutnya kemudian.
   ***
"Kau cukup antarkan aku sampai disini." Tegas Shinbi.
"Ayolah, noona. Aku ingin mengantarmu sampai rumah." Rengek Henry.
Shinbi memutar bola matanya jengah. Ia tak memperdulikan Henry. Shinbi segera berbalik dan berjalan dengan langkah yang dibuat besar-besar meninggalkan Henry yang hanya diam terpaku disamping motornya. Henry mendenguskan nafasnya kesal. Ia melihat Shinbi yang mulai menghilang di persimpangan jalan. Tiba-tiba, Henry menyunggingkan bibirnya. Sebuah senyuman atau seringaian muncul diwajah manisnya. Yap... Sepertinya si tampan kita telah menemukan sebuah ide cemerlang.
Setelah merasa yakin ia berjalan cukup jauh. Shinbi memperlambat langkahnya. Sebenarnya ia tadi berbohong kepada Henry, rumahnya masih jauh dari sini mungkin sekitar 500 meter lagi. Perasaan bersalah coba ia hilangkan, sebenarnya ia tak enak hati menyakiti perasaan seseorang. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa dan tak boleh memberikan harapan kepada muridnya. Harapan? Yap... Shinbi berpikir bahwa Henry menyukainya. Meski ia tak mendengar perkataan itu secara resmi. Tetapi, sikap dan perilaku Henry mencerminkan bahwa Henry menyukainya. Shinbi tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sampai ia merespon. Pasti akan terjadi masalah yang besar. Shinbi menggelengkan kepalanya beberapa kali, berniat menghapus pikiran rumitnya. Ia mencoba menikmati pemandangan malam di sekelilingnya. Pemandangan malam di jantung kota Seoul ini sangat indah, berbagai lampu yang bersinar terpasang manis di beberapa kios-kios yang masih buka. 'Selalu ramai' pikirnya. Berulangkali Shinbi menggosok-gosokan kedua telapak tangannya, mencoba sedikit menghangatkan tubuhnya. "Pabo, hanya orang bodoh yang tak membawa jaket saat musim dingin." Gerutunya pada diri sendiri.
Sebenarnya Henry diam-diam mengikuti Shinbi, berjalan sambil memapah motor besarnya itu. Henry mengambil beberapa meter dari belakang Shinbi agar tak ketahuan. Terbesit dalam pikirannya untuk memberikan jaket hangat yang ia kenakan pada Shinbi. Tetapi jika itu terjadi, ia akan ketahuan mengikuti Shinbi. Henry hanya dapat berharap jas putih yang berbahan tipis itu dapat menghangatkan yeoja yang amat disayanginya itu. Henry tersentak kaget saat tiba-tiba ia melihat Shinbi berlari kearah sebuah 'night club' di persimpangan jalan. Dengan tergesa Henry menaiki motornya lalu menyalakannya dengan cepat. Ia mengendarai motornya hendak menyusul Shinbi.
Saat sedang asyik-asyiknya memandangi beberapa kios yang menawarkan aksesoris lucu. Penglihatan Shinbi dikagetkan oleh sosok yang amat familiar baginya. Itu  Donghae, dia masuk ke sebuah 'night club' dengan langkah tertatih. Tanpa pikir panjang Shinbi berlari mencoba mengejar Donghae. Ia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
  ***
Hingar bingar musik mulai mengusik gendang pendengaran pemuda tampan yang baru saja memasuki 'night club'. Nafasnya tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Ia berlari tanpa berhenti sekitar 700 meter. Donghae -nama namja itu- mulai mengatur nafasnya. Ia langkahkan kakinya perlahan. Matanya menelusuri sekeliling ruangan yang kelihatan remang. Sesekali ia mendapati pandangan aneh dari para pengunjung yang rata-rata berpakaian elegan itu. Donghae tak mengindahkan pandangan aneh dari orang-orang itu. Ia terpaku saat melihat sosok yang dikenalinya sedang mondar-mandir disudut ruangan.
"Jiwon-ah, dimana Yeorim?" Tanyanya segera ketika ia berada di hadapan Jiwon. Dilihatnya Jiwon yang terlihat gelisah. "Jiwon. Jawab aku!" Bentaknya keras. Jiwon meneteskan air matanya. Jiwon benar-benar bingung harus mengatakan apa.
"Jiwon. Jebal, beritahu aku!" Mohin Donghae dengan putus asa. Ia tahu Jiwon ketakutan dengan bentakannya tadi.
Jiwon merasa tak enak hati, ia menggerakan jari telunjuknya kearah sebuah pintu disampingnya. "Mianhae oppa. Aku sudah melarangnya." Ucapnya dengan nada serak dan berat. Ia menundukan kepalanya, tak kuasa memandang Donghae. Donghae segera berlari kearah pintu itu. Perasaan buruk mulai mendatanginya. Dengan sekuat tenaga ia memberanikan dirinya mendobrak pintu yang ditunjuk Jiwon.
BRAKK
Entah karena apa? Pintu itu dengan mudahnya terbuka. Dengan segera ia masuk kedalam ruangan. Donghae merasa seperti disambar petir(?). Hatinya teriris-iris. Ia benar-benar tak percaya, ini bisa terjadi dalam kehidupannya. Ia melihat Yeorim dan seorang pemuda sedang bermesraan di sebuah ranjang king size.
     ????????????????????
Apa yang akan terjadi pada Donghae, setelah ia melihat kekasihnya bermesraan dengan orang lain didepannya? Dan apakah Shinbi akan merespon perasaan Henry?
Jangan kemana-mana! Nantikan kelanjutannya! ( Huahaha, emang sinetron? )
Terima Kasih ^^
Like & Coment ya!!!!